* I apologise for all the readers who don’t speak English — I have to write today’s posting in Indonesian, or else I would be in trouble.
Baru aja seminggu yang lalu saya baca artikel di Arab News tentang seorang businesswoman yang ditangkap oleh orang berjenggot panjang yang suka ikut campur urusan orang lain aka Muttawa. Orang berjenggot itu berkata:
The Ministry of Labor does not approve mixing of men and women at work places. So it’s both a violation of the country’s law and the Shariah.
Menteri Tenaga Kerja tidak menyetujui percampuran antara laki-laki dan perempuan di tempat-tempat kerja. Hal ini merupakan bentuk pelanggaran terhadap undang-undang negara dan hukum Shariah.
Saya sendiri kaget setelah baca quote diatas. Saya NGGAK pernah tau ada peraturan semacam itu, karena banyak sekali perempuan-perempuan yang kerja di rumah sakit — yang jelas-jelas tempatnya campur dengan laki-laki. Kenapa sih mereka sampe takut banget kami perempuan nyampur dengan laki-laki?? Apapun cara mereka untuk memisahkan perempuan dan laki-laki, pasti bakal ada sejuta cara lain yg bisa kami ambil untuk bisa nyampur dengan makhluk laki-laki. Such a stupid comment!
Nah, apa hubungannya posting ini dengan artikel di Arab News itu? Jadi begini. Suatu hari, tgl 24 Februari kemaren, saya sedang kerja di kantor. Seluruh pegawai kebetulan sedang berada di kantor semua, kecuali boss saya, yang lagi ada meeting di luar. Tiba-tiba, petugas dari Maktab al Amal datang ke kantor sekitar jam 12 siang. Petugas ini melihat sekeliling kantor saya, sebelum akhirnya masuk ke ruangan kerja saya — yang dihuni oleh 2 orang cewek lainnya. Lalu petugas brengsek itu menunjuk 3 cewek di ruangan itu, termasuk saya sendiri. Saya gak ngerti dia bilang apa, tapi cara dia nunjuk kami satu-satu seperti itu bener-bener keterlaluan! Saya rasa, dia emang belom tau tata krama!
Petugas itu akhirnya ngobrol sama paman boss saya di ruang rapat. Paman boss saya ini, sebut saja Pak Ahmad (bukan nama sebenarnya), kebetulan berwarga negara Saudi. Untuk urusan ruwet seperti ini, orang Saudi memang sangat diperlukan hehehe. Jujur aja saya gak begitu khawatir pas petugas ini datang, karena saya kira… well, saya punya iqamah. Kenapa saya harus takut..? I wonder. Tiba-tiba, iqamah kami di ambil sama petugas itu, anehnya dia gak minta iqamah dari pegawai yang cowok, cuma kami aja yang perempuan yg diminta. Saat itupun saya sebenarnya belom khawatir. Nah, saya mulai NERVOUS banget pas Pak Ahmad dan petugas itu teriak-teriak. Saya gak tau mereka berdebat ttg apa, karena mereka berada di ruang sebelah dan saya gak bisa dengar dgn jelas mereka ngomong apa. Tapi saya bisa melihat ekspresi mereka berdua karena ruang kerja saya dan ruang rapat hanya dibatasi oleh kaca.
Saat itulah kami bertiga yg cewek mulai sadar bahwa SEMUA pegawai cowok MENGHILANG! Hahaha. Mereka “kabur” dari kantor untuk menghindari petugas itu. Dan apesnya, kami yg cewek gak dikasih tau apa-apa dan ditinggalin begitu aja! Gimana kami gak khawatir?? Akhirnya, pertengkaran antara Pak Ahmad dan petugas itu memuncak dan si petugas teriak-teriak gak jelas sambil berusaha untuk nelpon seseorang lewat mobile phone-nya. Jantung saya hampir copot saat dia berteriak JAWAZAT! Pak Ahmad langsung ngebanting pintu ruangan terus mengunci pintunya supaya si petugas gak bisa keluar. Kami semua langsung panik. Bayangin, semua pegawai cowo di kantor, kecuali Pak Ahmad, udah pada “kabur” semua, dan kami yang cewe diancam akan dibawa oleh jawazat ke penjara!! Salah kami apa??? Tapi, alhamdulillah, petugas itu gak jadi nelpon jawazat — setelah dibujuk-bujuk oleh Pak Ahmad. Suasana di ruang rapat pun langsung mereda. I’m telling you, kalo petugas itu udah keburu nelpon jawazat, saya udah berada di penjara sekarang. Gila!!!
Pak Ahmad dan petugas itu ngobrol-ngobrol sebentar, lalu mereka ke ruangan kerja saya lagi. Surprisingly, wajah dia langsung berbinar-binar dan senyum-senyum — padahal beberapa menit yang lalu dia marah-marah dan teriak-teriak gak jelas. Petugas itupun langsung pergi. WHAT THE HELL HAPPEN??? Pak Ahmad langsung nunjukin kami gimana dia tadi nyelipin uang SR. 500 (Rp. 1 juta) ke dalam salah satu iqamah kami. Uang itu gak diambil ama petugas itu; sepertinya terjadi acara tawar menawar antara dua orang itu, dan disepakati Pak Ahmad akan ngasih dia SR. 5,000 (Rp. 10 juta). Petugas gak tau diri itu datang lagi sekitar jam 4.30 sore untuk ngambil uang itu. Pak Ahmad pun menjelaskan kpd kami bahwa, kami diancam untuk dibawa ke penjara dan di denda SR. 15,000 (Rp. 30 juta) untuk setiap orang (dalam hal ini saya dan dua orang temen kerja saya) dan boss ku di denda SR. 20,000 (Rp. 40 juta). Kalo ini terjadi, bisa aja saya di deportasi, kan? (gak yakin sih, tapi bisa jadi). Ortu saya ketawa ngakak pas saya ceritain ttg insiden ini!
Saat saya tanya Pak Ahmad, apa salah kami, beliau pun menjelaskan: pertama, kami cewek bertiga tidak disponsori oleh perusahaan dimana kami kerja, dan yang kedua, kami bekerja di ruangan yang campur dengan laki-laki. Untuk masalah yg pertama, saya akan tulis posting terpisah karena masalah ini memang lumayan ruwet en menyebalkan. Untuk masalah yg kedua,… memang, ruang kerja kami terpisah dengan ruang kerja laki-laki, tapi masalahnya… ruangan kami hanya dipisahkan oleh kaca (yang keliatan jelas dari ruangan manapun) — ini jadi problem besar buat si petugas. Saya rasa, ini sebabnya kenapa dia gak ambil pusing untuk minta-in iqamah seluruh pegawai di kantor, termasuk yang cowok. Insiden ini mengingatkan saya pada quote dari Arab News di atas!
Setelah terjadinya insiden gila ini, pegawai-pegawai di kantor jadi saling berbagi cerita ttg maktab al amal. Salah satu kantor di Jeddah pernah di datengin maktab al amal. Kantor ini katanya sangat bebas, cewek dan cowok campur; ceweknya pun gak pake abaya en jilbab selama kerja. Kebetulan, di kantor ini digantung foto salah satu pangeran dari keluarga kerajaan Saudi; mungkin menunjukkan bahwa kantor ini ada hubungannya dengan pangeran itu, atau bisa jadi si empunya kantor ini kenal dekat dengan pangeran tsb. Petugas yang datang dari maktab al amal melihat keliling kantor dan pergi tanpa meninggalkan komen sedikit pun. Ada lagi cerita ttg satu kantor yang SETIAP ruangannya terdapat foto Raja Saudi dan “pengikutnya” (crown prince, dsb). Si petugas melihat-lihat seluruh ruangan di kantor itu dan tidak berkata apa-apa. Inilah tandanya bagaimana powerful-nya keluarga kerajaan disini, ampe fotonya aja ditakuti oleh petugas tsb hahaha.
Korupsi, sogok menyogok, dan sejenisnya memang sudah menjamur disini. Saya gak bisa membayangkan berapa ratus ribu Riyal yang petugas tsb hasilkan dari operasi mendadak dia hari itu. Masalahnya, kantor saya letaknya di gedung yang mempunyai lebih dari 9 lantai, dan setiap lantai terdapat satu atau dua kantor yang berbeda. Perusahaan yang letaknya di sebelah kantor saya katanya ngasih uang sebesar SR. 10,000 (Rp. 20 juta) ke petugas sialan itu. Gosipnya nih, salah satu perusahaan di lantai atas nyerahin uang sebesar SR. 50,000 (Rp. 100 juta) — kalo ini saya gak tau bener atau nggak.
Kenapa saya nulis posting hari ini pake bahasa Indonesia? Jujur aja, sejak salah satu blogger Saudi ditangkap dan ditahan oleh pemerintah Saudi, saya merasa tidak punya lagi kebebasan untuk berekspresi di blog ini. Sekarang saya lebih berhati-hati untuk ngeblog. Banyak sekali sebenarnya cerita yang pengen saya share ttg negara ini. But I’m not brave enough to risk my life and my family. Bukan berarti ngeblog pake bhs indonesia seperti yg saya lakukan sekarang ngebuat saya bebas en aman loh… Saya gak mau sampe posting ini merugikan beberapa orang yang saya kenal. Insya Allah nggak.
Tags: job · law · Saudi Arabia · Women's Rights
Viewed for 1347 times

mel..i am so sorry to read this..
tapi ngeblog in indonesian is better deh untuk hal ini.
kecuali lo dah keluar dari sana. udah ambil master ajah, mana kerjaan lu gak IT gt lagi.
buru2 keluar deh dari saudi.
Aku menikmati ceritamu Amelie, teruskan ceritanya, bagus banget setidaknya kamu telah membuka mata orang2 yang tidak tahu tentang praktik seperti itu. Kisah yang sama pernah saya dengar dari profesor saya dari Pakistan tentang sogok-menyogok di hotel. Syukurlah kamu selamat! hati-hati aja!
Iye mel, buruan kuliah gih. Atau balik ke Jakarta lagi aja sementara.. (eh, not an option ya?)
keluar aja dari sana.. balik ke kampung halaman,.. walau di sini sama bobroknya.. but at least di sini kebebasan informasi lo dijamin,..
speechless mel..
susah ya disana. ckckck..
Ya ampun mel.. untung aja akhirnya loe gk kenapa2.. mudah2an hal yg kyk gitu gk terjadi lagi ya.
duh mel.. ntar mereka bisa curiga lo, gimana kalo tulisan lo ini diterjemahin pake mesin penerjemah..kan bnyk diinternet..jadi kaya’nya basanya jangan pake basa yg baku,cari kata yg susah dibaca mesin penerjemah…(kalo mereka niat bgt..)
atau basa chinca lawra ajahh..hehehe…. ithcu bethcul…
jadi kita2 aja yg ngerti…
ada2 aja yah…aturan2nya…
BTW mel.. gua bikin blog baru nih, alamatnya sparkledee.blogspot.com. Ganti linknya yaaa! Gua lg berusaha aktif lg nih bloggingnya, hehe
Ntar pgn gua masukin link bwt ngasi comment ke posting, kmaren blm sempet, hu hu.. cos ms kecampur aduk rasa “bersalah”, hihi..
Thanks for your concern guys! I am planning to meet up with my friends who have worked here for years to talk about this and listen to their experience/opinion regarding this. I’ll write more things about this issue hopefully within this week.
Tentang kuliah… hmm masih nunggu hasil dari applicationnya. masih lama pengumumannya, sekitar May akhir
Amel, HAPPY WOMEN’S DAY!
Lho… memang bikin blog di Saudi bila salah bisa dipenjara??…..padahal blog adalah mimbar demokrasi
wahh gawat donk..tp skrg msh ada ap2 gk yah??? uda 7 bln yg lalu artikelnya..heheheh
salam.
amel…saya benar-benar ketawa-ketawa dalam hati membaca pengalaman amel. tapi untunglah amel tidak jadi masuk penjara.
saya akui, kebebasan berekspresi dsini memang dipasung atas nama menjaga keamaman. tapi justru karena dipasunglah, banyak orang tambah bodoh dan pikirannya picik.
jika saja negri ini tak lagi punya minyak, bagaimana kelanjutan hidupnya? dan jika negeri ini tak lagi ada pekerja dari luar, bagaimana mereka bisa hidup? tapi anehnya, perlakuan jelek terhadap para pekerja masih saja menggurita bahkan dihampir setiap sudut rumah.
amel, saya pun sama seperti amel masih dihantui rasa takut untuk berbicara terang-terangan tentang sisi gelap neger ini.
mudah-mudahan kedepan, negeri ini penuh toleransi dan menghargai pebedaan sebagai rahmat.
keep moving aja amel.
ahmad.
blalbala (takut diketahui orang)heheh:)